Berpuasalah, Maka Kualitas Kesehatan Anda Meningkat


Pakar Gizi pada Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA IPB), Dr Ikeu Tanziha, Selasa (23/8), di Bogor mengatakan, puasa dapat meningkatkan kualitas kesehatan seseorang. “Puasa dapat meningkatkan kualitas kesehatan. Semakin sering puasa akan semakin bagus dampaknya bagi kesehatan,” kata Ikeu Tanziha.

Ikeu Tanziha mengemukakan, dalam Islam puasa selain sebagai kewajiban ibadah juga sebagai aktivitas yang dapat membantu peningkatan kesehatan seseorang. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah SAW, bahwa puasa dapat menjadikan tubuh sehat. ‘Sumuu tasihhu.’ Begitu bunyi hadits Rasul, yang artinya “Puasalah, niscaya kalian akan sehat.”

Lebih lanjut Dr Ikeu Tanziha menyampaikan, dalam ilmu gizi puasa juga dapat berfungsi sebagai detoxifikasi atau proses penghilangan racun dalam tubuh, sehingga sangat baik untuk dilakukan. “Puasa sangat baik bagi kesehatan. Puasa dapat membunuh racun-racun yang terdapat di dalam tubuh,” ungkapnya.

Menurut Ikeu, dalam tubuh setiap orang terdapat racun yang berpotensi menurunkan kesehatan. Pelaksanaan puasa dapat membunuh racun tersebut, sehingga stamina tubuh tetap bagus. Terkait makanan yang harus dikonsumsi ketika berpuasa, Ikeu Tanziha menyarankan untuk tetap mengonsumsi makanan yang bergizi, berimbang, beragam juga aman dan halal.

Selain itu dalam mengonsumsi makanan sebaiknya tidak memperbanyak karbohidrat, akan lebih baik mengonsumsi makanan dengan kadar protein tinggi dan sayur mayur dan buah karena protein dan buah-buahan juga sayur tidak mudah terserap oleh tubuh sehingga akan menahan rasa lapar agak lama.

Sementara itu apabila mengonsumsi banyak makanan yang mengandung gula, karbohidrat akan terangsang insulin keluar dan akan menurunkan glukosa dalam darah sehingga akan cepat merasa lapar lagi. Dr.Ikeu menyampaikan pentingnya untuk menciptakan lingkungan yang baik dan motivasi yang kuat harus selalu ditanamkan pada anak-anak sejak dini.

Otak Semakin Sehat saat Terbahak


JANGAN segan atau malu jika ingin tergelak saat mendengar sebuah lelucon. Menurut sebuah studi baru, tertawa terbahak-bahak tak hanya akan mencerahkan wajah, tapi juga menyehatkan pikiran karena meningkatkan neuron di otak kita. Semakin lucu lelucon tersebut, semakin terlihat aktivitas di pusat-pusat neuron tertentu yang menciptakan perasaan senang.

Sebuah tim ilmuwan dari Medical Research Council memindai otak 12 relawan untuk membandingkan apa yang terjadi ketika mereka mendengar kalimat biasa dan lelucon. Mereka menemukan bahwa respons area pusat ‘menghargai’ pada otak menyala lebih banyak dalam menanggapi humor daripada kalimat biasa. Selanjutnya, kekuatan respons bergantung pada seberapa lucu tanggapan yang diterima setiap 12 pasien.

“Kami menemukan pola karakteristik dari aktivitas otak ketika lelucon yang digunakan adalah permainan kata-kata,” kata Dr Matt Davis dari MRC Cognition and Brain Sciences Unit di Cambridge, seperti dikutip dari Daily Mail.

“Respons memang berbeda-beda pada setiap orang. Terlihat pada pemetaan otak dalam mengolah lelucon. Kalimat menunjukkan bagaimana bahasa memberikan kontribusi untuk kesenangan mendapatkan lelucon,” jelas para peneliti.

Lebih lanjut, para peneliti menyarankan bahwa temuan ini dapat digunakan sebagai patokan untuk memahami bagaimana orang yang tidak dapat berkomunikasi secara normal bereaksi terhadap lelucon. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience edisi Juni 2011

Pria dan Andropause

Andropause adalah kondisi pria usia tengah baya yang mempunyai gejala-gejala dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah, andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria. Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum dan hormon estrogen serta siklus haid berhenti dengan cara yang relatif mendadak. Pada pria, penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron, dan hormon lainnya terjadi secara perlahan.

Mekanisme terjadinya Andropause

Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi sistem reproduksi pria yang menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dibawah angka normal. Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs (Insulin like growth factors). Oleh karena itu, banyak pakar yang menyebut andropause dengan sebutan lain seperti Adrenopause (defisiensi DHEA/ DHEAS), Somatopause (defisiensi GH/ Insulin like Growth Factor), PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial Androgen Deficiency in Aging Male), Viropause, Climacterium pada pria, dan sebagainya.

Apa saja gejala Andropause?

Kumpulan gejala dan tanda yang timbul pada andropause antara lain:

1. Gangguan vasomotor: tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut.

2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati: mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/ institusi, depresi, dan hilangnya rasa percaya diri.

3. Gangguan virilitas: menurunnya tenaga, kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis.

4. Gangguan seksual: menurunnya minat terhadap seksual/ libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi/ disfungsi ereksi/ impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi.

Kapan gejala Andropause mulai timbul?

Umumnya andropause mulai terjadi pada usia 50-60 tahun. Gejala-gejala pada andropause tidak terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada usia yang bervariasi. Perubahan hormonal dan biokimiawi tubuh secara pasti akan terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak semua pria akan mengalami keluhan andropause.

Apa penyebab Andropause?

Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga seringkali tidak menimbulkan gejala. Beberapa penyebab andropause antara lain:

Faktor lingkungan

1. Bersifat fisik: bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan di bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga.

2. Bersifat psikis: suasana lingkungan, kebisingan dan perasaan tidak nyaman.

Faktor Organik (Perubahan hormonal)

Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Misalnya diabetes mellitus, varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (infeksi pada prostat), kolesterol tinggi, obesitas, atropi testis, dan lain sebagainya.

Faktor Psikogenik

Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron.

Apa Itu Varises, Dan Penanggulangannya.

Varises telah dikenal sejak lama. Buktinya saja pernah ditemukannya varises pada mumi pada tahun 1580 sebelum masehi.

Varises berkaitan dengan pembuluh darah balik (vena), yang berfungsi mengangkut darah sisa metabolisme dari seluruh jaringan tubuh kembali ke jantung. Pembuluh darah vena memiliki katup untuk mencegah darah kembali ke seluruh tubuh atau berkumpul. Pembuluh darah vena normal dengan katup yang baik akan membuat darah mengalir lancar menuju jantung.

Pada varises, katup yang seharusnya menahan aliran darah tidak berfungsi. Akibatnya darah yang mengalir ke jantung akan kembali lagi ke seluruh tubuh, atau tertahan di pembuluh darah vena. Sisa darah yang tidak kembali ke jantung akan berkumpul dan menyebabkan penurunan elastisitas dinding vena yang lalu melebar dan bercabang.

Umumnya varises terjadi di betis, bisa juga di saluran mulut ke perut (esofagus) yang sering berhubungan dengan kerusakan fungsi hati. Kerusakan sel hati mengganggu kemampuannya menyaring darah. Skibatnya aliran darah ke hati menjadi tidak lancar dan membentuk tonjolan pembuluh darah di esofagus. Hati-hati jika bendungan darah tersebut pecah dan masuk ke jalan pernafasan. Selain itu, varises juga dapat timbul di jalan lahir.

Wanita lebih banyak beresiko terkena varises, karena kontraksi vena lebih lemah dibanding pria, dan kulit wanita lebih lunak. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya varises:

1. Faktor keturunan

2. Umumnya varises terjadi pada orang dewasa akibat perubahan hormon

3. Bertambahnya berat badan

4. Kehamilan.
Dikarenakan meningkatnya hormon progesteron, dan bertambahnya berat badan saat hamil membuat kaki semakin terbebani berat tubuh.

5. Kurang bergerak.
Kurang gerak menyebabkan otot-otot di sekitar pembuluh darah vena tidak dapat memompa darah secara maksimal.

6. Terlalu lama berdiri.
Jika Anda terpaksa berdiri, tetaplah mencoba untuk bergerak. Tidak diam di satu tempat terlalu lama. Contohnya:
jalan di tempat.

7. Merokok.
Kandungan zat berbahaya di dalam rokok membuat pembuluh darah menjadi kaku, sehingga seringkali terjadi penyempitan.

8. Bersepatu hak tinggi.
Sepatu berhak tinggi menyebabkan gerak otot tumit yang berfungsi membantu kerja pembuluh darah menjadi tidak
maksimal.

9. Menderita penyakit kolesterol

10.Menderita penyakit kencing manis

Varises memiliki beberapa tahap. Pada tahap awal, umumnya penderita akan merasa kram dan pegal setelah lama berdiri. Belum tampak tanda-tandanya ketika diperiksa. Pada tahap yang lebih tinggi, mulai terlihat adanya kelainan pembuluh darah dan komplikasinya. Kaki terasa berat, rasa pegal saat beristirahat. Pada tahap yang lebih berat lagi, timbul pembengkakan di daerah kaki dan warna kulit di sekitar varises menjadi gelap.

Jika tidak ditangani, varises dapat menyebabkan ganggguan pada kulit yang diawali rasa gatal, kulit kehitaman seperti timbul eksim hingga timbulnya luka pada permukaan kulit. Komplikasi lainnya yang dapat terjadi adalah pecahnya vena. Walaupun jarang, varises juga dapat mengancam jiwa bila saja ada darah beku yang terbawa aliran darah ke jantung dan paru hingga mengganggu kerja organ tersebut.

Jenis-Jenis Varises dan Penyembuhannya.

Varises ringan dapat disembuhkan oleh obat-obatan, menggunakan kaus kaki (stoking) khusus, dan berolahraga untuk membantu menguatkan otot kaki. Stoking khusus dipergunakan untuk mencegah terjadinya pendarahan dan lebam.

Varises ringan juga dapat diobati dengan teknik suntikan yang disebut skleroterapi. Caranya dengan menyuntikkan zat yang dapat mengecilkan dan merusak vena sehingga aliran tersumbat sepenuhnya. Aliran darah tersebut akan dialihkan ke vena lain yang sehat. Terapi ini cukup efektif mengatasi varises tahap awal. Namun ada efek samping yang sulit dihindari, seperti terbentuknya varises baru, dan luka suntikan membekas.

Jika suntikan tidak dapat dilakukan karena varises yang diderita parah, perlu dilakukan stripping (proses pembedahan). Vena diikat / seluruh vena yang rusak diangkat, dan kaki dibebat erat. Resiko tindakan ini adalah terjadinya lebam dan terbentuknya varises baru. Pembengkakan kaki dapat berlangsung dalam 6 hingga 8 minggu.

Jenis-jenis varises:

Varises yang tergolong ringan

Disebut sebagai spider navy. Umumnya terjadi akibat suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, terkena sinar matahari secara terus menerus, sedang hamil, faktor keturunan, kebiasaan makan pedas, dan pengobatan hormonal. Spider navy bisa muncul pada wajah, pangkal lengan, paha, dan daerah lutut, atau pergelangan kaki dan tumit. Terapi yang digunakan adalah menggunakan sinar laser, sehingga pembuluh darah mengering. Ada juga terapi dengan bantuan alat listrik untuk memasukkan zat tertentu ke dalam kulit. Bertujuan untuk mengecilkan pembuluh darah.

Varises dalam kulit

Varises ini terjadi pada pembuluh darah vena yang halus dan tipis di dalam kulilt bagian kaki. Untuk mengatasinya, dokter akan memberikan obat-obatan yang dapat menguatkan dinding vena dan memperlancar aliran darah. Atau penderita disarankan menggunakan kaus kaki (stoking) khusus yang berfungsi menekan pembuluh vena sehingga otot dan dinding vena dapat bekerja kembali dengan maksimal. Kaus kaki (stoking) mampu mencegah, mengurangi gejala awal, dan rasa sakit untuk sementara. Oleh karena itu penderita harus tetap mengkonsumsi obat.

Reticular varicose veins

Merupakan varises yang cukup parah karena terjadi di pembuluh darah vena bawah kulit. Dokter akan melakukan beberapa tahap pengobatan, mulai dari pemberian obat yang berfungsi menguatkan dinding vena, melancarkan peredaran darah, sehingga diperlukan menggunakan stoking khusus. Penderita juga dianjurkan untuk berolahraga untuk melatih otot kaki seperti berjalan dan berenang. Sangat disarankan untuk tidak menggunakan hak tinggi.

Varises kronis

Varises ini akan memperlihatkan pembuluh darah yang berkelok-kelok pada betis. Jika terapi suntik tidak memberikan hasil, maka harus dilakukan pembedahan untuk memotong pembuluh darah vena yang rusak, sehingga aliran darah dapat kembali berjalan normal. Ada berbagai obat yang harus diminum untuk menguatkan dinding vena dan melancarkan peredaran darah, juga menggunakan stoking khusus dalam beraktivitas. Berolahragalah dan hindari mengenakan sepatu berhak tinggi.

Memprihatinkan, Salah Kaprah Pandang Vegetarian

Salah kaprah masyarakat kala mencermati pola makan vegetarian adalah hal yang memprihatinkan. Semakin memprihatinkan ketika data-data ilmiah tentang bagusnya sayuran dan buah, telah terpapar, tetapi hanya segelintir pakar gizi dan nutrisi di Indonesia yang menyuarakannya.

Banyak yang beranggapan kalau tidak makan daging maka tubuh lemas, dan tidak bertenaga
– Ketua Indonesia Vegetarian Society Susianto

Ketua Indonesia Vegetarian Society yang juga Koordinator International Vegetarian Union (IVU) Asia Pacific Susianto mengatakan, data-data ilmiah tentang kebaikan bervegetarian, telah banyak terpapar. Namun, informasi itu tak terakses.
Para ahli gizi dan nutrisi pun kurang melihatnya. Alhasil, mereka yang sudah meniadakan menu daging dan ikan dalam piring, atau juga telur dan susu-malah dianggap berpotensi kurang gizi, kurang protein, kurang lemak, kurang nutrisi, dan tidak bertenaga.

Mengutip hasil riset pakar kanker terkenal asal negeri jiran, Malaysia Prof Chris Teo, yang juga gurunya, Susianto menyampaikan, dalam 100 gram daging ayam misalnya, hanya ada kandungan protein 14,5-23,4 gram.
Dalam 100 gram daging sapi hanya 13,6-21,8 gram protein. Tetapi, dalam 100 gram kedelai terdapat protein 34,1-34,3 gram, sedangkan setiap 100 gram kacang hijau, proteinnya 23-24,2 gram.

“Banyak yang beranggapan kalau tidak makan daging maka tubuh lemas, dan tidak bertenaga. Padahal logikanya, sumber tenaga itu berasal dari karbohidrat yang hanya ada di tumbuhan. Nggak ada karbohidrat dari hewan . Kalau kolesterol, itu malah hanya ada di daging hewan,” kata Susianto.

Susianto, saat berbicara dalam Talkshow Kesehatan Hidup Sehat dengan Pola makan Vegan , di Balikpapan, Minggu (27/2) lalu, juga mengemukakan keprihatinannya ketika dampak buruk daging justru ditepikan. Aneka penyakit, misalnya, penyebabnya jelas, yakni daging, jerohan.

American Cancer Society-lembaga nonpemerintah di Amerika yang memfokuskan diri pada penanganan kanker-tahun 80-an silam telah memaparkan, 40-60 persen kanker bisa dicegah dengan bervegetarian. Selain itu, American Medical Association juga memaparkan bahwa 90-97 persen penyakit jantung bisa dihindari dengan diet vegetarian.
Banyak pihak, kata Susianto, hanya berpikir dan memfokuskan cara mengobati penyakit, bukan cara mencegah. Kanker pun selalu dilihat dari sudut pandang cara mengobati, yakni dengan kemoterapi. Padahal, kemungkinan sembuh dengan kemoterapi hanya satu persen, alias dari 100 penderita, hanya satu yang sembuh.

Tapi dunia medis memang baru bisa sebatas itu untuk mengatasi kanker. Karenanya, mengapa tidak dicoba cara mencegah dan mengobati kanker dengan pencegahan, yakni mengurangi atau malah tidak mengonsumsi daging. Cara ini lebih hemat, gampang, murah, dan simple, kata Susianto.
Ratu Ayu Dewi (apoteker, yang juga pakar nutrisi dari Universitas Indonesia), dan telah banyak berbicara tentang pentingnya bervegetarian, mengutarakan, zat karsinogenik penyebab kanker, hanya terdapat di daging.

Dalam tubuh, sel-sel kanker akan terpicu dan muncul ketika daging diolah misalnya dibakar, digoreng, atau dipanggang.
“Bahasa gampangnya yakni, jika mengurangi konsumsi daging, potensi kanker dan penyakit-penyakit lain akan berkurang. Walau demikian, mereka yang bervegetarian juga tak bisa dibilang lepas dari penyakit. Misalnya jika kebanyakan makan gorengan,” ucap Ratu Ayu.

Salah satu tanda kebanyakan asupan daging adalah anak-anak sekarang banyak yang mengalami kegemukan (obesitas). “Walau itu juga ditunjang kurang berolah raga. Obesitas saat dewasa, dipicu dari obesitas sejak anak-anak,” kata Ratu Ayu.

Akhirnya, menurut Susianto, memang tak bisa dipaksakan masyarakat beralih ke pola makan nabati. Bagaimana pun pilihan apa yang akan disantap, terserah pribadi masing-masing. Tentang bervegetarian yang penting jika dilihat dari sisi kesehatan, juga hanya bisa jalan ketika sudah tercipta pola pikir yang bisa menerima sesuatu hal berdasarkan pengetahuan.

Nah, sekarang tinggal menanti pakar gizi, pakar nutrisi, dan para ahli kesehatan, untuk memaparkan hal sebenarnya tentang kebaikan daging bagi tubuh, tanpa ada yang disembu nyikan (dampaknya). Susianto dan Ratu Ayu bersedia menjawab dengan data-data dan fakta ilmiah.

( disadur dari : kompas.com )